Laman

Selasa, 21 Agustus 2012

Jalan-jalan ke Vietnam | Saigon... Saigon... Exploring Ho Chi Minh City (Part 4 - Cao Dai Temple)

Heyy hooooo.....
Balik lagi nih di Part - 4, kelamaan ya update nya? Maap yaa kalo udah balik ke dunia nyata suka ribet sama kerjaan nih. Target... target... targett...!!! fiiuuhhhh....

Biar gak penasaran, yuk kita lanjutin tour de Saigon-nya

Hari ini adalah hari ke-2 kami di Saigon. Nah di cerita sebelumnya kami sudah memesan paket tour dari hotel kan? Sekarang saatnya dieksekusi nih....

Pagi itu waktu menunjukkan pukul 07.00 waktu Saigon. Kami pun segera turun untuk sarapan pagi, karena pukul 07.30 kami akan dijemput oleh pihak tour. Saat menitipkan kunci kamar kepada receptionist, Jennifer yang saat itu bertugas berkata "Hey it's too early, your tour leader will pick you up at 08.30" Woooogghhhhh ternyata kami salah lihat jadwal. Jadi jadwal jemputan pukul 07.30 itu buat keesokan hari. Ya sudah lah yaaa, seenggaknya kami bisa menikmati sarapan dengan lebih santai.

Karena kepagian, restoran di hotel masih relatif sepi jadi bisa bebas milih tempat duduk. Makanan yang disediakan cukup beragam. Mereka juga memisahkan bagian mana makanan yang halal dan non-halal. Jadi gak perlu khawatir. Keliling meja tempat penyajian makanan, pilihan sarapan gw jatuh pada Coriander Chicken Soup. Kayaknya hangat dan segar nih pagi-pagi makan sup ayam. Sup nya bening, wangi daun ketumbar yang khas, dan potongan dagingnya besar-besar,,, yummyyy.....

Menu juara ...
Sarapan kali ini tanpa nasi, jadi buat ganjelnya diganti pake croissant aja deh. Berhubung bakal jalan jauh hari ini harus makan banyak nih. Selain ambil soup dan roti, gw pun mengambil dua potong pisang goreng dan memesan scramble egg sama si pelayan resto nya. 

Lagi-lagi pagi ini kami harus mengalami kejadian aneh. Tiba-tiba sang pelayan mengantarkan sepiring sandwich isi telur dan sepiring besar pisang goreng. Padahal kita gak ada yang pesen menu itu sama sekali. Berikutnya yang lebih spektakuler datang deh semangkuk besar telur rebus. Lah siapa yang pesen ya??!! Perasaan tadi gw bilangnya minta scramble egg deh bukan telur rebus. Udah gitu datengnya setengah kilo pula haduuuhhh   -____-"



Setelah gw perhatikan sekeliling, tamu-tamu lain gak ada loh yg diservis sampe segitunya. Kami pun makin bingung dan berasa tamu spesial aja nih. Akhirnya gw baru sadar bahwa makanan yang mereka deliver ke meja kita itu semua makanan halal. Soalnya di meja saji ada menu sandwich isi ham, sementara yg diantar ke meja kami isinya telur. Wah mereka ternyata sangat membatu sekali dalam menyediakan makanan halal buat temen-temen gw. Salut dengan pelayanannya deh....

Waktu sarapan pun usai dan tour leader kami sudah datang menjemput di lobby hotel. Saatnya kami menuju tempat wisata yang pertama "Cao Dai Temple" Perjalanan yang akan kami tempuh kurang lebih sekitar 2.5 - 3 jam tergantung dari kepadatan traffic. Wah lumayan jauh juga ya, kebayang kalo pergi sendiri ke sana harus naik apa yaa???

Perjalanan kami menuju Cao Dai Temple kali ini dipandu oleh local tour leader namanya "Po". Kendaraan yang digunakan sejenis minibus dengan kapasitas kurang lebih sekitar 30 orang. Sepanjang perjalanan dia banyak bercerita tentang sejarah Vietnam. Po ini masih muda, mungkin usianya berkisar 26 - 28 tahun. Orangnya menyenangkan, mudah bergaul, dan suka bercanda. Selain itu Po ini orangnya sangat fair. Ketika bercerita tentang perang Vietnam, dia berusaha untuk tidak menyinggung turis-turis yang berasal dari Amerika. Oh iya sepanjang cerita dia juga mengingatkan kepada kami untuk tidak menggunakan kata "vietkong" jadi kalau berkunjung ke Vietnam hati-hati dengan kata "vietkong" ya. Soalnya kata itu saat ini sudah tidak digunakan dan cukup tabu.

Po dengan cerita-cerita seru-nya
Po banyak bercerita tentang sejarah Vietnam, kehidupan orang Vietnam, dan kebiasaan-kebiasaan orang-orang Vietnam. Dia juga bercerita tentang pengalaman pribadi dan keluarganya. Cukup miris ketika mendengar cerita tentang perang Vietnam. Meskipun hanya sekilas tapi cukup terbayangkan bagaimana situasi yang terjadi saat itu. Perang banyak membawa cerita duka dan penderitaan. Maka bersyukurlah kita yang hidup di jaman yang sudah merdeka. Sudah sepatutnya kita mengisi kemerdekaan yang telah diraih dengan membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar.

Nah perjalanan masih panjang nih, lumayan bosen juga. Sambil membunuh waktu mending lihat-lihat pemandangan jalanan di Vietnam deh. Yah seperti biasa sepanjang jalan dipenuhi oleh motor, motor, dan motor. Selain itu jalur yang kami lewati melalui pasar-pasar ya mirip di beberapa daerah di Indonesia deh. Banyak jualan kebutuhan sehari-hari, makanan, dan yang paling banyak jual buah naga. Ya karena saat kami berkunjung ke sana sedang panen buah naga, harganya VND 3.000 berarti kurang lebih harganya sekitar IDR 1.500, cukup murah.

Setengah perjalanan baru kami tempuh, untunglah Po memberi tahu bahwa kita akan berhenti di rest area. Aaahhh lumayan bisa lurusin kaki....

Ternyata oh ternyata rest area yang kami kunjungi bukan sekedar rest area saja. Tapi tempat ini merupakan tempat penghasil kerajinan tangan. Sebagian besar merupakan hiasan yang dibuat dari kulit telur. Hasilnya sangat bagus dan benar-benar handmade. Harga jualnya cukup mahal, maklum lah prosesnya benar-benar buatan tangan. Namun yang membuat kerajinan tangan ini spesial adalah para pekerjanya. Para pekerja di sini adalah kaum difabel yang memiliki cacat fisik. Pada umumnya mereka adalah korban dari keganasan perang Vietnam. Meskipun mereka memiliki keterbatasan fisik, namun mereka dapat menghasilkan karya-karya yang indah.

Selesai beristirahat, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Kami masih harus menempuh setengah perjalanan lagi untuk menuju Cao Dai Temple. Perjalanan kami cukup panjang dan si pengemudi terlihat mengejar waktu untuk tiba di Tay Ninh, lokasi Cao Dai Temple berada. Akhirnya pukul 11.30 waktu Saigon, kami tiba di lokasi Cao Dai Temple. Kami sangat beruntung karena tiba di saat upacara belum dimulai. Jadi kami masih bisa menikmati arsitektur di sekitar kuil.

Sebelum menjelajah kuil ini lebih lanjut, sedikit cerita tentang Cao Dai dulu yaaa.....

Cao Dai Temple, Tay Ninh
Cao Dai merupakan agama atau aliran yang bersifat sinkretisme. Cao Dai artinya "tempat yang tinggi" yang diartikan di tempat yang tinggi di mana Tuhan berada. Cao Dai sendiri merupakan penggabungan ajaran  Buddhisme, Taoisme, Islam, dan Katholik.

Bangunan kuil Cao Dai di Tay Ninh cukup luas dan sangat terawat. Beruntung sekali kami dapat menyaksikan ibadah penganut Cao Dai karena kami tiba lebih awal. Sepuluh menit menjelang ibadah dimulai, lokasi di sekitar kuil akan disterilkan. Tidak boleh ada yang lalu lalang di depan kuil. Bahkan kami yang sedang asik berfoto di depan kuil pun harus menghentikan aktivitas berfoto untuk menghormati ibadah. Para penganut Cao Dai pun mulai berbaris dan bersiap memasuki kuil melalui pintu depan kuil.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Cao Dai Temple, dapat menyaksikan jalannya ibadah yang berlangsung selam 30 menit ini dengan beberapa ketentuan :
1. Untuk memasuki kuil, kita harus melepas alas kaki.
2. Menyaksikan jalannya ibadah hanya dari lantai 2 dan tidak boleh memasuki area ibadah.
3. Dilarang keras membuat keributan untuk menghormati jalannya ibadah.
4. Boleh mengambil foto, selama tidak mengganggu jalannya ibadah dan tidak menggunakan blitz.

Ketika ibadah dimulai, alunan musik dan nyanyian mulai diperdengarkan. Para pemain musik dan penyanyi mengambil tempat di balkon lantai 2. Alat musik yang dipergunakan semacam rebab kalau di Indonesia. Alunan musik dan nyanyian ini akan diperdengarkan sepanjang ibadah berlangsung hingga usai. Para penganut Cao Dai mulai berbaris rapi dan sesuai dengan warna pakaian yang mereka kenakan. Ada yang memakai warna merah, kuning, biru, dan putih. Pakaian dari para penganut Cao Dai ini berupa jubah panjang dengan memakai semacam kopiah muslim. Mereka berdoa dengan menggenggam tangan seperti penganut Kristen/Katholik, dan mereka bersujud ke tanah seperti penganut Buddha. Dari cara ibadahnya pun merupakan penggabungan dari beberapa agama. Para pemuka agamanya yang menggunakan warna merah mewakili Katholik, warna kuning mewakili Buddha, dan warna biru mewakili Taoisme.

Arsitektur Cao Dai Temple
Arsitektur bangunan kuil para penganut Cao Dai ini sangat indah. Di bagian depan menjulang tinggi 2 (dua) menara di sisi kanan dan kiri. Langit-langit bagian dalam kuil dilukis berwarna biru menyerupai warna langit dan dihiasi awan-awan putih dan bintang-bintang. Jendela-jendela di sekeliling kuil penuh dengan ukiran dan hiasan berwarna-warni dengan beragam bentuk ukiran. Bangunan kuil ini juga ditopang oleh banyak pilar-pilar. Pilar yang berada di bagian dalam kuil dicat berwarna merah muda den dihiasi dengan ukiran naga berwarna hitam dan emas. Sementara pilar di bagian luar kuil dicat berwarna biru muda dengan ukiran naga berwarna kuning-merah-hijau, ukiran awan, dan matahari. Di bagian altar kuil, berwarna emas dan hitam serta terdapat simbol penganut Cao Dai yaitu mata yang juga terdapat pada setiap ukiran pada jendela di sekeliling kuil. Secara keseluruhan, kuil penganut Cao Dai ini penuh dengan berbagai ukiran, simbol, dan beragam warna yang saling berpadu merangkai keindahan arsitektur kuil ini. Wah kalau berbicara soal arsitektur bangunan kuil ini, bakalan panjang deh. Soalnya setiap sudut di bangunan kuil ini penuh dengan ukiran-ukiran dan setiap ukiran atau simbol tersebut pasti punya makna tersendiri...

Hampir 30 menit kami mengikuti prosesi ibadah para penganut Cao Dai. Namun sayang kami tidak dapat mengikuti keseluruhan rangkaian ibadahnya karena harus menuju tempat wisata berikutnya....

Berhubung gw merangkai ceritanya tengah malam, dan mata ini udah berat banget. Cerita jalan-jalan seru nya dilanjutin lagi di part-5 yaa.... See you...

Go To >>> Part 5

Back To >>> Part 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar